Retas Isi Kepala: Cinta, Kepercayaan Diri, Seks, dan Urusan Telepati Ala Professor X
Seperti yang barangkali sampeyan tahu, kampiun urusan bongkar-pasang isi kepala lewat jalur telepati di dunia ini adalah Charles Xavier, alias Professor X, sang dedengkot Xavier’s School for Gifted Youngsters. Lewat modal tempurung kepalanya yang licin itu, si Profesor konon sanggup ngobrol dengan seluruh umat manusia di muka bumi tanpa perlu repot beli pulsa.
Problemnya sederhana: apa barang gaib bernama telepati ini sungguhan ada?
Jawabannya, ada. Lha wong ini Professor X sendiri yang melempar klaim 
Tapi lepas dari apa kata Profesor berkursi roda itu, kita mestinya sudah berkali-kali memergoki cara kerja telepati di keseharian. Sampeyan mungkin masih sinis dan milih nggak percaya, padahal pada dasarnya mesin di dalam batok kepala kita ini memang dirancang buat kasak-kusuk di jalur bawah sadar. Ya, otak kita punya pemancar sinyal ganjil di mana gelombang pesannya sanggup menyusup ke pikiran orang lain tanpa kita perlu buka mulut sama sekali.
Contoh paling pasaran buat urusan beginian adalah skenario ibu-ibu yang lagi ninggalin bayinya di rumah, lalu mendadak dadanya diburu gelisah minta pulang. Begitu sampai di depan pintu, jebul tebakannya presisi: si bayi lagi nangis kejer. Di atas kertas kosmis, insiden macam ini bisa kejadian gara-gara si bayi sukses melempar sinyal SOS ke ibunya murni lewat frekuensi gelombang otak.
Membuat Orang Jatuh Cinta dari Jarak Jauh
Bergeser ke urusan asmara dan perkara remeh-temeh cinta, menurut kitab Professor X, kita faktanya bisa menunggangi telepati ini buat membobol lapis bawah sadar seorang perempuan biar mendadak naksir kita. Serius, nggak perlu nunggu divalidasi Professor X pun, manuver ini secara teknis memang bisa dieksekusi. Syarat sahnya cuma satu: isi kepala sampeyan harus setenang air termos dan rileks total pas lagi ngirim sinyal.
Jadi, rentetan birokrasi macam apa yang harus kita tempuh buat mengintervensi isi kepala seorang perempuan dari radius kejauhan?
Yang pertama dan paling mendasar, sampeyan harus ketok palu dulu: siapa perempuan malang—eh, manis—yang bakal jadi target sasaran operasi ini.
Kelar urusan target, siapkan fisik dan mental. Kita bakal menggelar ritual ganjil ini di dua zona waktu: malam hari pas mata udah sepet mau tidur, dan pagi buta tepat waktu sampeyan baru melek.
Langkah pertama sebelum badan menyentuh kasur adalah memaksa otak turun gigi ke kondisi frekuensi alfa. Frekuensi alfa ini ibarat mode power-saving; kondisi di mana pikiran terasa rileks, pewe, lemas tak berdaya, dan nyantai murni. Cara masuk ke mode ini: pejamkan mata, sedot napas dalam-dalam lewat hidung, tahan sekuat paru-paru sampeyan sanggup, lalu proyeksikan wajah target di kepala sambil merapal aji-aji ini di dalam batin:
Mulai saat ini kamu mencintaiku.
Kalau dada sudah mau meledak nggak kuat nahan, buang napas itu pelan-pelan lewat mulut.
Habis itu, kembalikan ritme napas ke setelan pabrik, tapi pastikan tarikannya sangat halus. Sekali lagi, dicatat baik-baik: sangat halus dan pelan-pelan.
Sambil terus mengatur napas pelan itu, bangun imajinasi serealistis mungkin di mana sampeyan lagi hepi-hepi, mesra-mesraan, dan asyik bercumbu-rayu sama si target, sambil kembali menyisipkan sugesti ini di dalam dada:
Mulai saat ini dan selamanya kamu mencintaiku.
Ulangi kalimat itu terus-terusan di dalam hati sambil menahan proyeksi wajah target di kepala sampeyan. Geber terus siklusnya sampai sampeyan sukses tertidur dengan sendirinya gara-gara capek.

