Sepuluh Jangkar Sebelum Laki-Laki Hilang Akal
1. Seorang laki-laki tidak pernah keselek gengsi cuma untuk bilang, “Tolong,” dan, “Terima kasih,” Bung. Dua kata itu harus meluncur dari mulut sampeyan sebisa dan sesering mungkin.
2. Seorang laki-laki tidak akan sudi merendahkan apa yang dipercaya orang lain, Mas, entah itu menyangkut urusan iman yang sakral, pilihan politik di bilik suara, atau sesederhana tim olahraga medioker yang didukung mati-matian.
3. Seorang laki-laki mengantongi sapu tangan ke mana pun ia pergi dan siap menyodorkannya jika situasi menuntut—terutama ketika ada perempuan yang mendadak runtuh dan menangis di depan matanya.
4. Seorang laki-laki pantang membanting pintu tepat di depan wajah orang lain, persetan apakah yang berdiri di baliknya itu pria atau wanita, manusia sepuh atau balita, kawan nongkrong lama maupun orang asing di jalanan.
5. Seorang laki-laki tidak akan memproduksi lelucon murahan menyangkut ras, agama, jenis kelamin, atau orientasi seksual; dan beliaunya juga punya cukup kewarasan untuk tidak menganggap guyonan tongkrongan macam itu sebagai sesuatu yang lucu.
6. Seorang laki-laki paham betul tata krama antre-mengantre dan tahu persis cara menahan diri saat menunggu giliran di tengah birokrasi keseharian.
7. Seorang laki-laki selalu siap mengulurkan jabat tangan yang hangat, Bung.
8. Seorang laki-laki tahu cara memastikan sepatu kulit yang diinjaknya bebas dari kerak kusam dan menjaga kuku-kuku jarinya tetap dipangkas bersih tanpa sisa daki.
9. Seorang laki-laki tidak butuh jurus ngeles; sampeyan harus berani menelan ludah dan mengakui kesalahan sendiri.
10. Seorang laki-laki tidak akan membuang martabatnya hanya untuk baku hantam dan bertengkar.

