Tentang Situs Ini

Hai, Bung.

Nama saya…ah, panggil saja Quentin. Quentin Chamberlain. Nama asli? Jelas bukan. Itu cuma hasil muntahan algoritma generator di Google. Kemarin saya iseng mengetik “Very British Name Generator” di kotak pencarian, menyodorkan nama asli saya ke sana, dan keluarlah nama yang baunya seperti teh seduh kedaluwarsa itu 🙂

Kenapa repot-repot pakai topeng? Lha, ini murni latah komunal, sampeyan tahu sendiri. Di luar dan di dalam ekosistem ini, banyak kawan yang mendalami taktik menggaet perempuan (entah yang masih muda atau yang sudah banyak makan asam garam), lalu mengubur nama KTP mereka dengan nama panggung yang katanya keren—keren menurut mereka, tentu saja, belum tentu menurut saya atau sampeyan. Di luar sana ada Neil Strauss yang bersalin rupa jadi Style, Eben Pagan yang ganti kulit jadi David DeAngelo, Mystery yang aslinya cuma Erik von Markovik, Joshua Seltzer yang bersembunyi di balik Swinggcat, sampai deretan nama-nama pretensius lain semisal Tyler Durden, Gambler, DJ Fuji, El Topo, atau Gunwitch.

Di ranah lokal kita punya Ronald Frank, Honji Milagro, Lex DePraxis, Exorio, Kis Uriel, Kei Savourie, Peter Rave, Erwin Galaxy plus Rudy Star, dan segala rupa daftar absensi lainnya.

Kembali ke nasib saya.

Saya ini, sebetulnya, tak pernah ada niat mengganti nama seperti mereka. Awalnya lho, ya. Apalagi saya ini lahir sebagai orang Jawa tulen, rasanya absurd dan seperti maksa pakai jas hujan di musim kemarau kalau harus menyandang nama bule begitu. Tapi demi keamanan, murni karena saya enggan repot berurusan dengan hal-hal runyam macam Will Smith di film The Hitch, saya terpaksa merancang nama alias. Kebetulan saya memang pernah numpang hidup di Inggris lewat jalur beasiswa, dan kadang masih rindu kedinginan di sana, maka nama ala British ini akhirnya sah jadi pilihan.

Jadi, panggil saja saya Quentin. Atau Mas Quentin, silakan. Tapi tolong, jangan panggil Sir apalagi Lord, lha wong saya ini masih orang Jawa. Lahir dan besar di Playen, Gunung Kidul, Jogjakarta—meski sekarang paru-paru saya lebih sering menghirup polusi ibukota negara kita.

Nha, sekarang soal situs ini. Jujur saja, Bung, dari dulu saya agak jengah melihat menjamurnya kelas-kelas kilat soal cara mendekati perempuan di semesta Google. Harganya bikin ngilu buat pria Indonesia berdompet tipis seperti saya di zaman kere-hore dulu. Ujung-ujungnya, bilik warnet yang pengap jadi markas; mengunduh materi bajakan dari sisa-sisa internet lambat. Problemnya, materi bermutu itu mayoritas berbahasa Inggris. Saya terpaksa mengeja lekat-lekat, menerka maknanya perlahan ke dalam logika bahasa kita. Bikin repot, dan jelas merampok waktu tidur.

Maka dari itu, ini visi dan misi saya sekarang: saya akan membongkar semua yang sudah saya baca, baik dari suhu lokal maupun mancanegara. Saya bajak rak ilmu mereka, dan saya gelar semuanya di warung ini. Saya tulis ulang dengan bahasa yang—semoga—lebih ramah di otak dan enak dikunyah oleh sampeyan semua, duhai para pria Indonesia yang sedang gelisah!

Sampeyan tidak perlu lagi mual memikirkan cara transaksi online lintas negara, tidak perlu lagi migrain membaca bahasa asing sambil bolak-balik buka kamus cuma buat mengerti satu frasa. Biar saya yang jadi kulinya, sampeyan tinggal duduk tenang dan membaca.

(Tapi tolong jangan kaget… Nanti sampeyan akan menemukan banyak materi yang seolah saling baku hantam satu sama lain. Wajar, namanya juga isi kepala manusia, gayanya beda-beda. Tidak ada jaminan satu resep bakal manjur untuk diterapkan semua orang. Ambil saja pendekatan yang rasanya bisa dijahit ke kepribadian sampeyan. Yang cocok kantongi, yang ganjil tinggalkan. Di dunia semacam ini, tidak ada yang namanya metode satu-ukuran-untuk-semua.)

Lagi pula, kerja bakti ini ada untungnya buat saya sendiri. Dengan meracik ulang materi, artinya saya dipaksa belajar lagi, memeras intisarinya sampai tuntas, lalu mengendapkannya di memori pribadi. Sambil jalan, saya juga belajar merakit website, menyusun dan menyunting konten, mengulik search engine optimisation (SEO) plus ranking factor sebuah situs, membedah metrik dan analisis trafik pengunjung, sampai mencari celah cara memonetisasi tempat ini. Semua ini panggung latihan yang bagus buat saya yang sedang merintis nasib baru sebagai web developer. Saya dapat untung, sampeyan dapat ilmu. Kita berdua sama-sama impas.

Maka, inilah tambahan alasan keamanan lapis kedua soal kenapa akhirnya saya berlindung di balik nama samaran: saya tidak mau para empunya materi yang saya bedah di sini tahu identitas KTP saya. Saya juga sadar betul, artikel-artikel di situs ini rentan dituduh “mengeksploitasi” perempuan secara psikologis—sebuah tuduhan yang garis batas moralnya memang licin dan abu-abu. Saya tidak mau kelak Komnas Perempuan atau aktivis feminis mengendus jejak saya lalu mengetuk pintu rumah saya. Saya sama sekali tidak siap menghadapi rentetan protes dan amarah mereka. Taruhannya terlalu tinggi, bisa mengacaukan kehidupan keluarga dan anak-anak saya, hahaha!

Nah, terima kasih sudah sudi membaca.


Hormat saya,

quentin chamberlain, lelananging jagad

Quentin Chamberlain