Perjalanan Sejauh Ini
Bacaan Sebelumnya: Soal Pilihan, Memilih, dan Dipilih
Ada masalah krusial yang kemungkinan bakal kita hadapi sehubungan dengan materi-materi yang kita pelajari ini. Pertama, tips-tips yang ada dalam perjalanan kita sejauh ini sebenarnya adalah materi psikologi umum. Artinya, meskipun titik awal dan bahasa yang dipelajarinya berbeda, orang lain sangat boleh jadi memiliki pengetahuan yang sama dengan apa yang sudah kita pelajari. Di belahan bumi utara, selatan, timur, dan barat sangat mungkin ada oknum manusia lain yang menguasai keahlian mirip dengan apa yang baru saja kita ketahui.
Malah bisa saja kejadian, Wahyudi, teman kita sendiri, yang selama ini kita anggap tidak pernah membaca apa yang sudah kita pelajari, ternyata sama-sama mengakses materi-materi yang ada di sini. Otomatis pemahaman dan trik yang dimiliki Wahyudi sama persis dengan yang kita punyai.Ini
Dan bayangkan skenario terburuk soal si Wahyudi ini tadi: Sewaktu kita mencoba mendekati seorang wanita dengan gaya pembukaan yang sudah kita pelajari, ternyata Wahyudi sudah bertemu dengan wanita itu dua hari yang lalu, memberondongnya dengan tips dan trik yang sama, yang jadi senjata kita. Otomatis si mbak langsung déjà vu, dong, dengan kalimat pembuka yang kita lontarkan, bahkan sampai ke titik-komanya.
Kampret! Kita ketahuan!
Tapi bukan masalah.
Yang kita perlukan sekarang adalah rencana cadangan. Intinya, sekarang ini kita ternyata memiliki kesamaan dengan Wahyudi. Sama-sama mempelajari bahan yang sama. Maka apa boleh buat, lupakan kalimat pembuka yang sudah terlanjur kita keluarkan, putar arah saja, dan bilang, “Jadi…kamu sudah pernah dengar juga ya. Terus, menurutmu bagaimana? Ini pertama kalinya saya belajar soal beginian, dan waktu pendekatan pertama, ternyata saya malah ketangkap basah!”
Ingat-ingat saja, yang namanya pembukaan tentulah kita gunakan untuk membuka percakapan. Nah, sekarang kita malah sudah berada di dalamnya, ngobrol tentang salah satu topik yang paling menarik di dunia: Hubungan AKA relationship.
Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut terhadap hasil apapun yang kita peroleh. Justru karena kita sudah punya bayangin tentang kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, itu artinya kita bisa menyiapkan rencana cadangan kalau-kalau yang kita khawatirkan itu akhirnya memang jadi kenyataan.
Ingat pula, bahasa ataupun kata-kata tidaklah sepenting tujuan kita di balik kalimat tersebut. Pembukaan “Temanku nan Kampret” bisa bekerja dengan baik bukanlah karena “Temanku nan Kampret” adalah pembukaan yang bagus, tapi karena itu adalah cara untuk memulai percakapan dengan sekelompok orang tanpa maksud menggombali siapapun. Visi dan misinya jelas beda level dengan mas-mas yang suka suit-suit nggodain cewek di pengkolan gang. Maka selama kita mampu melakukan hal tersebut, kita tidak perlu khawatir, bahkan jika teknik yang kita praktikkan ini dikenal jamak sampai ke Suriname.

