Tiga Puluh Hari Mencari Cinta
Sampeyan niscaya gampang menemukan tutorial memikat perempuan di luar sana. Ada ribuan teks yang cerewet mendikte bagaimana kita mesti merakit isi kepala, memasang gestur, sampai merancang manuver di lapangan. Tapi problemnya, saya belum pernah menjumpai satu pun panduan kearifan lokal yang repot-repot memandu kita secara presisi: apa yang sebetulnya harus kita eksekusi sejak bangun tidur sampai kembali menatap langit-langit kamar setiap harinya.
Sampeyan sendiri mungkin sudah kenyang menelan teks semacam itu, tapi lantaran absennya kompas yang menerjemahkan teori jadi pijakan konkret, kita malah jadi patung kebingungan di garis start. Alhasil, boro-boro dipraktikkan, taktik mentereng itu cuma ngendap jadi wacana usang di kepala. Ketiadaan jadwal sistematis yang bisa dieksekusi membuat nasib kita jalan di tempat—mentok di warung kopi. Ujung-ujungnya, karena realitas tak secantik teori, kita cuma bisa merutuk pada nasib, persis ilustrasi kusam di atas teks ini.
Lantaran alasan remeh tapi menohok itulah, hari ini saya menyusun satu set kurikulum untuk kita uji bersama. Jangan cemas, ini bukan motivasi murahan; ini detail. Saya menamainya “Tiga Puluh Hari Mencari Cinta”, sebab dalam eksperimen ini, kita akan dituntun bermain hari demi hari, membedah waktu selama sebulan penuh, demi satu urusan banal yang menyita kewarasan umat manusia: mengajak seorang perempuan kencan atau nge-date.
Oh ya, supaya mesin adrenalin di permainan ini berputar lebih beringas, ada baiknya kita menyeret satu teman (yang rekam jejak romansanya sama-sama ngenes seperti kita) buat adu nasib. Hukum rimba berlaku: siapa yang lebih dulu sukses mengamankan teman kencan sebelum tiga puluh hari kedaluwarsa, dialah pemenangnya. Yang kalah wajib menyetor upeti pada yang menang, entah itu sebotol Teh Pucuk Harum, Frestea, Nu Greentea, Teh Ichi Ocha, sekaleng Heineken, atau sebungkus Marlboro Filter—apapun, atur saja sendiri nilai taruhan moral kalian 😛
Oke, mari kita bongkar mesinnya. Eh, sebentar, sebelum nekat tancap gas, ada prasyarat absolut yang wajib kita lunasi lebih dulu.
Apa itu?
Ini:
Prasyarat
Kita harus membakar habis seluruh arsip informasi yang kita tahu soal perempuan dan kencan. Ya, ludes tanpa sisa. Entah itu wejangan kolot dari orang tua kita, bualan sohib sekolah, teori abal-abal teman kampus, buku-buku self-help berdebu yang kita baca, atau panduan kencan yang telanjur kita konsumsi, buang semuanya ke tong sampah. Anggap kepala kita ini gelas kosong yang baru dicuci; posisikan diri kita seperti entitas yang buta huruf soal asmara.
Lha, kenapa? Karena jika kita menelusuri teks ini sampai pada titik ini, itu membuktikan kita punya ketertarikan untuk membedah tutorial yang saya tawarkan. Lalu kenapa kita tertarik? Jelas karena kita menyadari ada sistem yang rusak dalam diri kita setiap berhadapan dengan urusan kencan. Ada sekrup yang lepas dari informasi masa lalu. Dan kalau sebuah mesin sudah mogok, cuma ada satu jalan tolol tapi efektif: ambil, hancurkan sampai berkeping-keping, lalu rakit ulang dari nol. Cuma dengan cara itu kita bisa mengukur ulang kewarasan setiap komponen—yang dalam kasus ini, tentu saja, adalah konstruksi pemahaman kita soal isi kepala wanita.

