Tiga Puluh Hari Mencari Cinta
Pedoman Umum
Protokol yang wajib kita patuhi sangat lurus: Tiap pagi, di antara ngilu mengumpulkan nyawa sehabis tidur, baca surat perintah harian kita. Misi itu bisa berwujud doktrin logis untuk dipelajari, pertanyaan eksistensial yang menuntut jawaban, manuver pengembangan batin, atau praktikum lapangan telanjang untuk menghampiri perempuan di alam yang nyata.
Skala instruksi ini dikonstruksi dari yang paling banal lalu pelan-pelan mencekik saat kita menyeberang ke fase berikutnya. Tapi santai, tekanannya masih masuk akal. Syaratnya cuma disiplin: luka lecet dari misi hari ini adalah pelumas buat menahan hantaman instruksi besok harinya. Posisikan saja seperti orang yang konsisten angkat beban di gym, bedanya yang dibentuk di sini adalah otot keluwesan sosial kita.
Dan kalau kita punya ambisi melihat hasil mutasi yang brutal dari Tiga Puluh Hari Mencari Cinta ini—sampai bikin keluarga dan sirkel pergaulan kita tercengang—pantang hukumnya memotong kompas. Eksekusi misi demi misi itu sesuai nomor urutnya. Jangan curang loncat ke bab depan! Jangan merobek segel rahasia yang belum waktunya. Beberapa manuver dan praktikum adalah fondasi absolut (bahkan mungkin bakal menabrak frontal sifat pengecut yang kita pelihara selama ini) untuk benturan besoknya. Maka, rawatlah kedisiplinan. Setiap tindakan absurd di sini punya alasan kausalitas.
Beberapa surat perintah juga akan memaksa kita melahap literatur tambahan. Dokumen-dokumen ini disematkan di buntut tiap catatan harian. Wajib ain menyerap instruksi kertas itu sebelum sepatu kita menjejak aspal untuk praktikum. Paham? Saya anggap otak kita cukup waras untuk mengangguk 😀
Hal lain yang menuntut disiapkan hanyalah instrumen remeh: sebatang bolpoin dan secarik kertas. Selain itu, barangkali kita akan dipaksa menghadap cermin, memegang gawai dengan sinyal internet, dan menyalakan perekam untuk mendengar betapa sumbangnya suara kita sendiri. Perkakas ini bakal krusial untuk membongkar ilusi harian. Oh ya, tidak ada salahnya mencari buku catatan kumal, jadikan semacam logbook untuk merekam apa yang kita alami di lapangan sebagai materi otopsi belakangan.
Intinya, kita tak butuh bakar uang (seperti bayar retret asmara berkedok seminar mahal di luar sana) demi merampungkan operasi ini. Modalnya cuma kerelaan menyisihkan secuil waktu setiap harinya untuk mengeksekusi tugas-tugas mikro yang tanpa disadari bakal mendemolisi hari tua kita yang kesepian. Hajar bleh!
Lagipula, tak ada satu pun kewajiban dalam tutorial ini yang menyandera waktu kita lebih dari satu jam, sehingga di atas kertas kita bisa saja rakus menenggak tiga misi sekaligus dalam tempo sehari. Tapi, sumpah, jangan nekat melakukan itu! Jaga ritme, patuhi batasan dosis harian kita secara ketat.
Apa Parameter Menang dalam Permainan Ini?
Gampang. Kita diklaim sukses merobek jaring tantangan ini jika di salah satu koordinat waktu antara hari pertama dan hari ke-30, kita sudah mengamankan teman kencan. Dan biar tak ada ambiguitas, definisi kencan di sini adalah: terwujudnya pertemuan kedua yang direncanakan secara sadar dengan perempuan yang baru saja kita temui.
Sebagai contoh, seandainya kita nekat membuka konfrontasi dengan seorang perempuan di warung kopi bising, berhasil membarter nomor telepon, dan menjemputnya untuk kopi darat lagi dua hari berselang—itu sudah saya sahkan sebagai kencan. Seandainya kita melempar obrolan di lorong supermarket lalu sepakat bertemu malam itu juga di bawah lampu Beer Garden (dan wujud fisiknya benar-benar muncul)—itu juga kencan. Persetan meskipun nomor kontak tidak pernah saling berpindah tangan sebelumnya.

