PanduanPola Pikir

Bukan Wajahmu, Tapi Mitos yang Membunuh Nyalimu

Bacaan Sebelumnya: Putuskan Saja Rantainya

Urusan menebar omongan dan bergesekan dengan perempuan, musuh paling brengsek yang pernah saya hadapi ternyata adalah isi kepala saya sendiri. Bukan apa-apa, Bung… Tapi di masa lalu, setiap kali menatap pantulan cermin sehabis mandi, saya disergap kenyataan bahwa tinggi saya mentok di 163 cm, berat badan menolak melorot dari 68 kg, hidung bengkok akibat bogem mentah kiper lawan zaman masih ngotot main bola tarkam, rambut awut-awutan (tolong jangan singgung perkara ketombe), dan, yah, logis saja kalau saya otomatis memvonis diri tak akan becus satu ring dengan pejantan-pejantan necis bertubuh atletis. Saking putus asanya di masa muda itu, saya sempat punya fantasi gila ingin meminjam wajah Bambang, adik kelas yang jago metik gitar dan dipuja-puja perempuan lintas kasta.

Tapi setelah saya melewati fase kontemplasi panjang—sembari puasa makan kecuali pas lambung berontak—lalu nekat membongkar anatomi penaklukan sosial, hari ini, tiap kali berpapasan dengan perempuan di trotoar, warung kopi, pusat perbelanjaan, atau klab malam, saya dihantam realitas bahwa kosmetik fisik nyatanya tak seberkuasa yang saya cemaskan dulu. Singkat kata, selama saya membungkus diri dengan rapi (dan membasuh kepala pakai sampo Selsun), modal absolut untuk menyeret perhatian siapa pun tak lebih dari sekadar presensi dan ketenangan diri yang presisi.

Fakta telanjangnya, sampai detik ini pun cetak biru fisik saya tak banyak direnovasi. Saya menolak menenggak suplemen peninggi badan abal-abal, cadangan lemak di perut juga masih betah menggelayut, saya batal menjarah muka Bambang, apalagi sampai tergoda pisau bedah plastik. Dengan spesifikasi rongsokan seperti itu, nyatanya sekarang saya bisa bersinggungan secara luwes dengan ras perempuan. Malah saya mengantongi privilese konyol tiap kali diadu dengan laki-laki yang memamerkan otot dada. Wujud saya jadi tak terbaca sebagai radar ancaman yang berpotensi mengintimidasi (lagipula daripada mengintimi dasi, energi saya mending dipakai buat mengintimi Tiwi, Nurma, Desti, Kartika, atau Ratna. Buat apa pula dasi diintimi?).

Pendeknya, saya sukses menyusup masuk ke ring satu pertahanan psikologis perempuan tanpa menyalakan alarm mereka, yang mengonfirmasi satu hal: kerusakan selama ini tidak berakar pada fasad wajah saya, melainkan pada iman buta saya terhadap mitos-mitos interaksi antar-gender. Dogma-dogma ngawur itulah yang diam-diam menyekap kewarasan saya sendiri.

Nah, sistem kepercayaan ngawur ini adalah racun yang sengaja kita tanam ke dalam cara kita menilai diri sendiri, menilai orang lain, dan mengukur luas dunia. Biarpun dalilnya acapkali cacat logika, nahasnya kita telanjur menjadikannya kitab suci, yang ujung-ujungnya malah mengebiri keberanian kita untuk mengumpulkan jam terbang dan menyentuh garis menang. Tiap kali mulut sampeyan bergumam “saya nggak bakalan mampu” menundukkan sesuatu yang jelas-jelas bisa dieksekusi orang lain, kalimat itu adalah prasasti nyata betapa takhayul tak berdasar ini telah sukses memenjarakan sampeyan.

Problem krusialnya sekarang adalah: bagaimana cara kita merobohkan berhala-berhala ngawur ini?

Eksekusinya sangat receh.

Coba seret diri sampeyan ke depan cermin, lalu lemparkan pertanyaan ini, “Pernahkah sejarah mencatat satu momen di mana ____ (silakan isi dengan ilusi yang menyandera sampeyan)?”

Sebagai studi kasus, seandainya sampeyan selalu gemetar dan merasa salah tingkah saat duduk di dekat perempuan manis, tanyakan ulang ke lambung sampeyan, “Pernahkah ada satu episode di mana saya bisa bernapas tenang meski dicepit perempuan manis?” Coba gali arsip ingatan soal satu masa di mana sampeyan sungguh-sungguh merasa aman di dekat entitas manis tersebut, dan lewat satu manuver memori itu saja, sampeyan baru saja menelanjangi betapa palsunya keyakinan sampeyan selama ini.

1 2 ... 5

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x