PanduanPola Pikir

Bukan Wajahmu, Tapi Mitos yang Membunuh Nyalimu

Nyaris seluruh umat manusia memelihara mitos rongsokan di kepala mereka, entah diadopsi secara sadar atau diselundupkan lewat alam bawah sadar. Maka, sebelum sampeyan turun ke aspal untuk orasi menuntut kenaikan UMR—eh, maksudnya menemui dan mencegat orang asing—mari kita berjemaah membakar semua mitos semprul yang membelenggu keluwesan kita di depan perempuan, tanpa terkecuali mitos soal Nyi Roro Kidul.

Mitos-Mitos yang Berserakan

1. Kalau saya melempar omongan, dia pasti membuang muka…atau yang bikin lambung perih, dia bakal memuntahkan kalimat yang meruntuhkan harga diri saya.

Halu. Statistik di aspal justru menyodorkan ironi mengejutkan: Semakin sebuah target terlihat sulit ditembus, semakin anjlok probabilitas sampeyan bakal ditendang mentah-mentah dengan kasar.

Lha, kenapa begitu? Karena mereka menolak menjadi bar-bar semata-mata karena mayoritas manusia (dan tolong catat, perempuan itu manusia) di atas tanah ini disuapi norma kesopanan sejak balita. Tentu kalkulasinya berubah drastis kalau si mbak mendadak merasa nyawanya di ujung tanduk. Tapi coba ngaca sebentar, laki-laki pengecut dengan tangan dingin macam kita ini mana punya kapasitas buat mengancam orang? Risiko paling bajingan yang bisa terjadi hanyalah si mbak pura-pura matanya lengket ke layar chat WhatsApp temannya, atau beralasan lambungnya mulas dan butuh ke toilet.

Inti perkaranya, merakit algoritma “bagaimana-jika” yang fatalistik di kepala sendiri hanya akan membakar habis sisa kewarasan emosional sampeyan. Makanya angkat pantat sampeyan, seret kaki ke luar pintu, hampiri satu perempuan, dan sampeyan bakal dipukul kenyataan bahwa 90 persen kiamat kecil yang sampeyan skenariokan tadi cuma fiksi murahan.

2. Seluruh mata di ruangan ini sedang menatap saya, menimbang-nimbang dosa saya, dan diam-diam mentertawakan saya.

Lho? Sampeyan ini siapa kok ge-er amat? Fakta telanjangnya: mungkin satu-dua pasang mata memang melirik kita, tapi jauh dari kata sempat untuk merumuskan vonis, karena nyaris semua orang di ruangan itu diam-diam sibuk ketakutan memikirkan bagaimana pandangan orang lain terhadap baju yang mereka pakai. Nah, begitu sampeyan khatam soal premis bahwa umat manusia di luar sana sama-sama disekap rasa tak aman yang serupa—dan mereka juga cemas diamati oleh sampeyan—sampeyan bakal otomatis berevolusi jadi entitas yang lebih nekat di arena sosial.

Di luar itu, mayoritas kepala yang tak sengaja memergoki sampeyan menghampiri seorang perempuan (atau gerombolan perempuan) akan otomatis memproses kesimpulan logis bahwa sampeyan sudah kenal lama dengan si perempuan. Jadi pasanglah gestur seperti kawan lama yang datang tidak untuk menagih utang. Taktik manipulasi ringan ini bukan cuma ampuh membungkam kecemasan sampeyan terhadap CCTV sosial, tapi juga menjadi katalis yang bikin manuver PDKT jadi masuk akal.

3. Perempuan muak pada laki-laki baik-baik, radar mereka cuma bergetar untuk si berandalan “bad boy“.

Matamu, Maliiiiih! Hukum alamnya tidak begitu. Yang absolut adalah bahwa perempuan itu menunduk pada laki-laki yang tangguh.

Ini sungguh mitos purba, umurnya barangkali lebih fosil dari imaji “Ali Topan Anak Jalanan“, trilogi “Cintaku di Kampus Biru“, “Balada Si Roy“, atau yang paling mutakhir “Dilan 1990“. Buntutnya, kredo sesat ini jadi alot untuk diamputasi karena—selain akarnya sudah melilit tulang—dongeng ini dikeraskan tiap hari lewat cekokan industri budaya pop kita, persis seperti katalog judul-judul barusan.

1 2 3 ... 5

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x