KomunikasiPanduan

Dua Kunci Penting

Bacaan Sebelumnya: Masih Soal Kalimat Pembuka

Umumnya, begitu kita mendekati sekelompok orang asing, mereka bakal memikirkan dua hal: “Mau ngapain orang ini?” dan “Sampai kapan dia di sini?”

Maka dari itu, salah satu strategi yang harus kita siapkan dalam permainan ini adalah mengantisipasi dan menghilangkan penolakan ini — dan tentu saja penolakan jenis apapun juga — sebelum penolakan itu terjadi. Kalau kita melakukannya dengan baik di menit pertama — atau taruhlah menit kedua — pendekatan kita, yakinlah sumpah, kita bakal menerima respon negatif yang jauh lebih sedikit.

Kasih Alasan

Biasanya, kalau ada sesosok cewek yang tidak tahu kenapa kita tahu-tahu ngajak ngobrol beliaunya, beliau yang terhormat itu akan merasa curiga sampai dengan kita memberi tahu alasan kita. Atau dia menebak-nebak alasan kita, dan alhamdulillah-nya tebakannya benar. Inilah kenapa orang-orang yang menggunakan kalimat pembuka yang bersifat meminta opini sering ditanya, “Sampeyan ini lagi ngadain survei, ya?”

Oleh sebab yang demikian, untuk mengantisipasi jenis pertanyaan, “Apa yang diinginkan manusia ini dariku?” kita mesti menjelaskan alasan atau konteks pembukaan kita.

Misalnya, kalimat pembuka yang kita gunakan mungkin saja barusan terlintas di otak kita, maka kita juga harus mengetahui jawabannya sesegera mungkin.

Cara paling mantap untuk menggunakannya adalah dengan menjelaskan alasan kita, setelah kita selesai mengucapkan kalimat pembuka. Kita bisa memakai kalimat berikut sebagai bentuk penjelasan kita: “Alasan saya bertanya adalah…”

Waktu “Temanku nan Kampret”, alasan kita bertanya adalah karena si Kampret teman kita itu baru saja tinggal bareng pacarnya (memang kampret, kan? Wong statusnya baru pacar, kok, sudah berani-beraninya tinggal bareng. Digrebek massa baru tahu rasa!), dan pacarnya nggak mau kalau si Kampret berkomunikasi dengan salah satu teman ceweknya. Di sini ceritanya kita perlu memberi masukan untuk si Kampret, tapi sayang…sayang, sayang seribu kali sayang, si Kampret tidak mau mendengar, dan kita perlu bantuan.

Alasan yang kita berikan tidaklah mesti detail atau malah ndakik-ndakik. Alasan yang kita kasih boleh jadi sangat simpel, misalnya: “Teman saya dan saya baru aja ngobrol, terus kami butuh sudut pandang perempuan.” Dan jika kita sedang tidak bersama teman, bilang saja kalau diskusi kita baru saja terjadi lewat telepon. Pendeknya, apapun yang masuk akal bisa dijadikan alasan, yang penting hal tersebut membuat si wanita atau kelompok yang kita ajak ngobrol bisa mengetahui alasan kita mendekatinya dan menanyakan suatu hal.

1 23

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x