Dua Kunci Penting
Batasan Waktu
Buat jomblo-jomblo etekewer di luar sana, yang jadi core of the core perilaku mereka adalah mendekati seorang cewek dan mencoba untuk bisa tetap ngobrol selama mungkin sampai si cewek mengakhirinya, atau, seperti kata Marsono sebelumnya, sampai si cewek mau untuk diajak ngeseks. Maka justru karena hal inilah, wanita mengembangkan banyak taktik untuk mengusir cowok-cowok yang mendekatinya terlalu lama.
Itulah kenapa, mulai saat ini, kita akan menyampaikan ke si wanita, bahwa kita berbeda, dong, dengan pejantan-pejantan lainnya.
Dari awal kita mendekat, si perempuan sudah memikirkan, bagaimana caranya untuk mengusir kita, kecuali dia sendiri sudah tertarik pada kita sejak pandangan pertama. Strategi yang mereka pakai, biasanya dia akan berkata, sedang ada pembicaraan penting dengan teman-temannya, pamit ke toilet, atau pura-pura sedang nungguin pacarnya. Jadi untuk mengantisipasi problematika waktu alias pertanyaan batin, “Berapa lama cowok ini bakal di sini?” kita perlu memberikan batasan waktu kepada wanita.
Yang dimaksud di sini adalah kita menyatakan kepada si wanita (atau kelompoknya) dengan jelas, bahwa kita nggak bakal lama-lama di situ. Batasan waktu harus dimasukkan sejak menit awal perbincangan, sebelum lawan bicara menebak-nebak berapa lama kita akan berbicara. Maka awali pembukaan kita dengan batasan waktu, seperti: “Saya harus segera ke parkiran, tapi ada satu pertanyaan…” atau, jika di tengah-tengah pembukaan, beri tahu: “Ngomong-ngomong, saya sudah sudah ditunggu teman-teman saya dan nggak seharusnya saya ngobrol dengan kalian…”
Perihal waktu ini tidaklah harus diucapkan, tetapi bisa juga ditunjukkan lewat gerak-gerik kita, misalnya ditunjukkan dengan posisi tubuh yang condong ke arah tertentu, kaki yang bergerak-gerak, mengambil langkah menjauh sambil berbicara, atau apapunlah yang membuat kita kelihatan buru-buru — sedang menuju ke suatu tempat.
Batasan waktu sebaiknya mengandung dua elemen, verbal dan fisik. Lewat kata-kata dan tindakan. Diucapkan serta ditunjukkan lewat gerak tubuh.
Maka ketika kita menggunakan batasan waktu dan memberikan alasan, dua perkara ini menyebabkan lawan bicara kita tidak khawatir tentang apa yang bakal kita katakan dan bagaimana caranya mengusir kita. Otomatis hal ini membuat target kita menjadi lebih rileks untuk mendengarkan apa yang mau kita ucapkan 🙂
Eh, tapi tunggu!
Mungkin di antara kita ada yang berpikir, kalau kita bilang, bahwa kita akan segera pergi, bagaimana caranya kita bisa tetap menyambung komunikasi setelah kita melakukan aksi pembukaan?
Pertanyaan bagus, John 🙂

