Pura-pura Jadi Manusia Purba
Bacaan Sebelumnya: Meditasi Enam Langkah
Tiga Puluh Hari Mencari Cinta: Hari #3
Misi 1: Pura-Pura Jadi Manusia Purba
Instruksi pembuka hari ini niscaya akan memicu mual di lambung sampeyan. Apa boleh buat, kenyamanan memang tak pernah jadi menu utama di kurikulum ini. Ini adalah eksperimen sosial yang wajib kita benturkan langsung ke realitas. Rasionalisasi di balik kekonyolan ini baru akan saya bongkar telanjang bulat pada hari esoknya.
Maka, untuk 24 jam ke depan, berlakulah fatwa ini:
- Haram hukumnya mengguyur badan, termasuk menyikat gigi;
- Jauhkan pisau cukur dari wajah;
- Singkirkan jauh-jauh semprotan parfum atau roll-on deodoran itu!
Modal sampeyan cuma jempol tangan untuk menyisir paksa rambut yang kusut (kalau sampeyan kebetulan masih punya rambut di kepala, sih 😀 ). Selebihnya, pokoknya sampeyan wajib ber-cosplay jadi Pithecanthropus erectus yang belum merayakan peradaban mandi sama sekali. Tebak apa probabilitas paling masuk akal yang akan terjadi? Tidak akan ada satu makhluk pun yang menyadari kekusaman sampeyan!
Lha, kok bisa? Karena mayoritas Homo sapiens di aspal itu terlalu repot ketakutan memikirkan penilaian orang atas penampilan mereka sendiri. Tapi, seandainya ada manusia berhidung Bloodhound yang menyadari bau tengik sampeyan, siapkan tameng ini, “Ooo…saya lagi terikat taruhan konyol sama geng tongkrongan,” atau pasang wajah misterius dan bilang, “Ssstt…saya lagi jadi guinea pig proyek rahasianya pabrik parfum multinasional. Bayarannya gila-gilaan. Makanya saya nekat.”
Misi 2: Berbicara dengan Percaya Diri
Dulu, saat saya masih merangkak di fase adaptasi kurikulum ini, problem terbesar saya adalah lidah yang sering terpeleset tiap kali dipaksa melempar dialog dengan orang asing. Ritme bicara saya mendadak melesat ala rapper gagal. Volume suaranya ciut, dan di beberapa kesempatan saya malah gagap parah, apalagi kalau entitas di depan saya memancarkan aura otoritas yang mengintimidasi ego saya.
Kecacatan teknis macam itu jelas jadi sabotase fatal kalau saya nekat berburu target di live music kafe yang bisingnya merobek gendang telinga. Dengan kapasitas vokal semenjana, probabilitas sukses menculik perhatian perempuan target otomatis anjlok ke titik nol. Sialnya (atau untungnya), kampus saya dulu punya unit Paduan Suara. Jadi saya nekat mencegat pelatihnya, lalu saya rayu-rayu si bos ini agar sudi membedah dan merekonstruksi intonasi serta power vokal saya.
Pita suara sampeyan itu adalah presensi identitas. Rentang suara bisa memvonis di kasta mana sampeyan berdiri, seberantakan apa kecemasan sampeyan detik itu, dan sehebat apa sampeyan mengimani nyali sendiri. Makanya, hari ini mari kita gelar operasi pita suara dengan menelan lalu mengeksekusi dokumen lapangan “Lima Tips Melatih Intonasi Vokal”.
Misi 3: Berlagak Salah Sambung
Untuk praktikum lapangan di hari ketiga ini, sampeyan diwajibkan ngendon di rumah (atau di titik koordinat mana pun, yang jelas tak ada keharusan menginjak aspal. Agak absurd memang, kalau saya suruh mendekam di rumah padahal sampeyan ternyata nggak punya rumah, tiap malam tidurnya di indekos sempit). Kita cuma akan mengeksploitasi jaringan seluler dan pita suara.
Manuver yang wajib dieksekusi sekarang adalah memencet nomor telepon acak bak telemarketer gadungan. Begitu frekuensi di seberang diangkat, todong mereka untuk memberi rekomendasi film. Itu saja perintahnya.

