Kalimat Pembuka
Bacaan Sebelumnya: Berhenti!
Tiga Puluh Hari Mencari Cinta: Hari #7
Misi 1: Belajar Terbuka
Pelajaran pertama untuk hari ini: Nggak ada yang namanya kalimat yang bisa membuat perempuan jatuh hati saat diucapkan.
Kalau ada kata-kata yang bisa membuat cewek jatuh hati atau langsung horny ke kita (istilah Inggris-nya adalah pickup line), setiap cowok di muka bumi ini pasti sudah menggunakannya. Aslinya, yang selama ini dianggap oleh orang banyak sebagai pickup line adalah kalimat guyonan, yang tidak akan pernah benar-benar digunakan ketika kita bertemu dengan seorang wanita untuk pertama kalinya.
Yang benar adalah ada sebuah proses tertentu yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan hubungan romantis — yang bisa pula mengarah ke konteks seksual — dengan wanita, dan proses ini dimulai dengan kalimat pembuka (opener), alias serangkaian kata-kata — yang mungkin adalah bagian terpenting dalam sebuah interaksi.
Tugas kita kali ini adalah membaca artikel “Pembukaan” sebelum memulai misi-misi selanjutnya.
Misi 2: Siapkan Kata-Kata Kita
Misi kita kali ini adalah mengembangkan kalimat pembuka ala kita, sesuai dengan petunjuk yang sudah kita baca.
Cara termudah untuk merangkai kalimat pembuka adalah dengan memikirkan hal-hal yang bisa membuat kita penasaran, ingin kita pelajari, atau juga yang membuat kita bingung. Pilih topik yang paling mungkin bisa menarik minat sebagian besar orang. Kalimat pembuka ini bisa merupakan sebuah tema yang penuh makna, atau tema yang bakal memancing perdebatan, atau juga bisa berupa topik trivial, seperti budaya, kesehatan, dan gosip harian.
Setelah memilih tema, jangan bertanya kepada teman kita apa jawabannya, atau malah mencari penjelasan tentang topik yang kita pilih di internet. Yang harus kita lakukan adalah gunakan tema tersebut ketika kita berbicara dengan orang lain. Misalnya, kalau kita tidak ingat nama penyanyi dari lagu yang kita dengar, jadikan itu sebagai misi kita sampai kita menemukan jawaban yang tepat. Bisa juga, jika pacar teman kita tiba-tiba mencium kita — dan kita bingung, perlu menceritakan soal itu ke teman kita atau tidak — cobalah meminta pendapat dari perempuan yang kita temui di jalan.
Bahkan, pertanyaan yang aneh pun bisa kita jadikan kalimat pembuka yang efektif, selama nggak dibuat-buat. Contohnya, suatu hari saya pernah berdebat dengan seorang priyayi. Topiknya adalah soal laut. Tanpa buka-buka Google, kami menjadikannya sebagai kalimat pembuka di malam durjana itu: “Masih ingat pelajaran Geografi? Ada berapa benua di dunia ini? Oke, ada tujuh. Ada berapa samudera? Yup, lima. Pertanyaannya, apa nama kelima samudera itu? Saya dan teman saya bingung soal ini. Kami hanya bisa menyebutkan empat.”
Segeblek-gebleknya kata-kata tersebut, kalimat pembuka itu selalu berhasil memulai sebuah percakapan.

