Belajar Caranya Belajar
Bacaan Sebelumnya: Saat yang Menantang
Waktu awal petualangan saya dalam dunia percewekan macam begini, seorang adik kelas zaman kuliah, sebut saja Abdul Majid (memang nama sebenarnya), menghubungi saya. Abdul Majid mengetahui dunia jenis ini sekitar tujuh bulan sebelumnya, dan sudah mempelajari konsep-konsep dasarnya, tapi nggak banyak kemajuan yang didapatkannya. Entah karena dianya sendiri memang lulusan pesantren (saya juga lulusan pesantren, sih. Pesantren kilat, lebih tepatnya), atau justru karena memang nggak banyak kemajuan dalam proses pembelajarannya, dia masih saja jadi perjaka.
Ya bagus, sih, kalau alasannya adalah yang pertama. Walaa taqrabuuz-zinaa innahu kaana faahisyatan wasaa’a sabiilaa. Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
Cuma saja, kok, naga-naganya kondisi tersebut lebih karena alasan yang terakhir ketimbang yang pertama 😈
Abdul Majid ini lebih keren dari saya. Badannya lebih berotot, rambut hitam semi-semi keriting, dan rahangnya juga terkesan kokoh. Satu uppercut belum tentu bisa membuatnya roboh. Tapi di sisi lain, ketika saya sudah menjalani petualangan yang dulunya tidak pernah terpikirkan, bahwa cowok macam saya bisa mengalaminya, Abdul Majid — meskipun sudah berusaha keras — tetap saja belum pernah cipokan dengan perempuan. Maka ngobrollah Abdul Majid dengan saya, mencoba mengetahui apakah ada sesuatu yang keliru.
Setelahnya, kami menyadari alasan di balik semuanya. Abdul Majid memiliki strategi belajar yang berbeda dengan saya.
Untuk itu, saya kemudian merumuskan empat belas strategi belajar, yang tidak hanya berlaku untuk permainan gebet-gebetan perempuan seperti ini, tapi juga bisa berlaku di kampus, di kantor, atau di kegiatan-kegiatan kita lainnya. Aturan inilah yang membedakan antara homo sapiens ecek-ecek dengan sang juara yang — perlahan tapi pasti — mendaki menuju puncak orgasme. Jadi pastikan kita memahami dan mencoba setiap prinsip di bawah ini sebelum mencoba mengonsumsi aturan-aturan pada misi kita berikutnya:
1. Cari tahu dan praktikkanlah pengetahuan yang kita dapatkan sedikit demi sedikit. Banyak makhluk cupu di luar sana yang sangat ahli dalam mengumpulkan informasi dan literatur. Hal ini mereka lakukan dalam rangka mempersiapkan diri, jaga-jaga kalau-kalau suatu saat informasi atau literatur ini mereka butuhkan. Tetapi, walaupun orang-orang ini mengeluarkan usaha pengumpulan yang tidak sedikit, tanpa tindakan untuk mempraktikkan ilmu yang diketahuinya, ini sebenarnya adalah bentuk lain dari menunda-nunda.
Cara terbaik untuk menguasai sesuatu adalah dengan mempelajarinya sedikit demi sedikit. Pelajari secukupnya untuk menuju ke level berikutnya. Jika kita masih kesusahan mendekati perempuan, pelajarilah soal caranya membuka obrolan. Jika kita sudah menguasai tahap pembukaan, belajarlah caranya melanjutkan pembicaraan. Jangan repot-repot untuk berpikir soal teknik Kama Sutra dulu. Kita toh nantinya juga akan sampai di tahap tersebut, selangkah demi selangkah, sesuai dengan kebutuhan.

