MetafisikaPanduan

Menentukan Tujuan Kita

Misi 2: Lihatlah Mata Kita (Instruksi ini sifatnya sunah, bebas mau dieksekusi atau dilewati, meski saran saya selaku arsitek: pantang mundur, kerjakan saja.)

Ada manuver tambahan yang bisa digeber buat memaku lebih dalam pernyataan misi personal di atas tadi. Logikanya adalah menyuntikkan ambisi itu langsung menembus lapis bawah sadar, yang wujud konkretnya adalah lewat ritual meditasi buat menghipnosis ego sampeyan sendiri.

Buat sampeyan, dan mungkin kawan sampeyan, yang seumur hidup belum pernah nekat meretas alam bawah sadar sendiri, silakan contek buku manual sederhana dari saya berikut ini:

Saya pribadi lumayan beriman pada “The 6 Phase Meditation” racikan Mindvalley Creations Inc. Silakan dengarkan dan hayati isi audio tersebut. Oh ya, sebelum menyumpal telinga dengan headphone/earphone, carilah sudut sepi untuk membendung interupsi selama proses cuci otak ini, lalu duduklah dengan pasrah. Tak usah memaksakan posisi teratai ala petapa sakti. Cukup rebahkan pantat dan bernapaslah dengan tenang.

Pasang telinga baik-baik dan tunduk pada semua instruksi dari audio itu. Teks panduannya memang memakai bahasa bule, tapi benang merahnya menuntut kita untuk memvisualisasikan enam fondasi. Raba dan proyeksikan imajinasi itu dengan mengerahkan seluruh sensor panca indra. Enam fondasi itu adalah:

1. Imajinasikan tulang dan daging sampeyan dibungkus energi damai berwujud gelembung cahaya yang menyilaukan. Pelan-pelan, gelembung itu membengkak menelan seluruh dinding ruangan, rumah sampeyan berikut setiap nyawa di dalamnya, merayap ke kompleks perumahan, menginvasi provinsi, melahap peta negara, hingga akhirnya membungkus bulat-bulat Planet Bumi. Semua entitas disekap oleh radiasi positif yang murni bersumber dari dada sampeyan;

2. Merunduk bersyukur. Gali 5-10 keping anugerah, belas kasih, atau sisa tawa yang nyangkut di hari ini maupun tempo hari. Visualisasikan setiap detik yang tak bikin mual, entah itu laporan kantor yang lolos revisi, nilai Ujian Akhir Semester yang menyelamatkan muka, rekreasi keluarga yang tumben tidak berakhir debat, atau sekadar membakar tembakau bareng sirkel tongkrongan. Jangan hitung ukurannya. Secangkir teh mengepul yang disorongkan ibu di atas meja sudah lebih dari cukup. Esensinya adalah membiarkan ekstasi kegembiraan itu merayap dari ubun-ubun sampai ke kuku jempol;

3. Amputasi emosi negatif. Bakar semua daftar dendam di kepala. Tarik ingatan soal satu sosok yang membikin lambung sampeyan asam, bayangkan wajah semprul itu berdiri menantang di depan mata. Imajinasikan sampeyan merelakan kesalahannya, lalu sodorkan pertanyaan apakah dia sudi menelan egonya dan memaafkan sampeyan juga. Proyeksikan adegan di mana dia mengangguk, lalu saksikan bagaimana ritme interaksi sampeyan berdua kembali cair layaknya tak pernah ada gesekan;

4. Nah, masuk ke inti! Visualisasikan seluruh ambisi personal yang baru saja sampeyan catat di kertas tadi. Rumus psikologinya begini: manusia amat gemar membesar-besarkan manuver yang sanggup mereka geber dalam setahun. Tapi lucunya, kita malah mengecilkan diri dan nyali saat disuruh meramal capaian tiga tahun ke depan. Sekarang, setrika habis rasa minder itu dengan membayangkan bahwa semua cetak biru misi personal sampeyan tadi sudah lunas tereksekusi. Resapi rasa arogan dan bangga saat sampeyan menyentuh garis finis. Jangan ditahan. Rayakan kemenangan fiktif itu. Sampeyan sangat pantas sedikit bersikap sombong di fase ini;

1 2 3

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x