Fraksinasi
Bacaan Sebelumnya: Cacat di Pikiran Perempuan
Semuanya berawal dari obrolan saya dengan (Alm.) Bapak Suhadi Wignyotaruno sewaktu saya masih kuliah di Jogjakarta dulu. Mbah Di, begitu saya biasa memanggilnya, adalah seorang praktisi psikologi dan ahli hipnoterapi profesional bersertifikat yang kebetulan saya temui dalam perjalanan saya dari Jogja ke Bandar Lampung. Saya bahkan sempat ditraktirnya ketika bis yang kami naiki berhenti buat istirahat makan.
Waktu itu saya menolak ditraktir, tapi Mbah Di malah pasang lagak, “Halah, nggak apa-apa, wong karo anak’e dhewe. Kamu masih mahasiswa kok nggaya nggak mau dibayari?”
Nha, tho…wong jelas-jelas dia yang sok-sok’an, kok, malah saya yang dibilang nggaya? 
Suatu malam sehabis makan di angkringan, ponsel Siemens C45 saya bergetar. SMS masuk dari Mbah Di. Beliau protes, hahaha, kok saya nggak pernah sowan lagi ke rumahnya, ngobrol-ngobrol soal tingkah-laku manusia. Maka setelah ngeles sana-sini (standar, saya bilang saya lagi direpotkan oleh tugas-tugas kuliah), saya sepakat untuk datang ke rumahnya di sekitaran daerah Banteng, Kaliurang besok harinya ba’da Maghrib.
Setelah bicara ngalor-ngidul ditemani Djarum 76 dan coffeemix, tahu-tahu Mbah Di bilang, “Le, kowe ngerti ra, setelah bertahun-tahun aku hidup, aku mengamati ada satu pola yang aneh sekali di klien-klienku.”
“Pola nopo niku, Mbah?” tanya saya lebih lanjut.
“Ngene, Le. Setiap mereka datang pertama kali, mereka selalu gugup. Karena gugup itu mereka jadi sangat waspada, sadar diri, dan seolah-olah pasang benteng dari aku. Karena masang benteng itulah akhirnya mereka malah nggak mengalami trance (alias nggak sadar, alias bisa juga berarti kesurupan) waktu coba ta’hipnoterapi. Jadi, biasanya kunjungan pertama mereka itu sama sekali nggak berguna dan kadang-kadang malah bikin frustasi.”
Saya ngangguk-angguk. “Jadi masuk ke dalam kondisi trance itu bukan kondisi yang gampang buat kebanyakan orang nggih, Mbah?”
“Tapi gini, Le. Biasanya segala sesuatunya kemudian jadi selalu lebih gampang dan sederhana pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Lebih gampang, lebih gampang, dan lebih gampang lagi sejalan semakin banyaknya pertemuan. Malah biasanya, pas kunjungan keenam atau ketujuh, mereka sudah bisa langsung masuk ke trance cukup dengan aku menjentikkan jari aja.”
“Ini menarik, Mbah. Apa semua klien panjenengan mengalami pola yang sama?”
Mbah Di mengangguk. “Justru itu yang bikin aku takjub, Le. Aku ini seumur hidup sudah nangani klien lebih dari dua ribuan, dan semuanya menunjukkan perilaku yang sama. Semuanya, tanpa kecuali.
“Apa Mbah sudah coba melakukan semuanya dalam satu sesi aja, Mbah? Maksud saya, ketimbang menunggu sampai beberapa kali pertemuan, apa Mbah sudah njajal menghipnosis mereka, tarik lagi ke kondisi sadar, hipnosis lagi, tarik lagi, hipnosis lagi, begitu terus…semuanya dalam waktu sekian menit?”
Mbah Di malah senyam-senyum. Katanya kemudian, “Le, kalau kamu bisa melakukan itu, kamu berarti sudah menemukan holy grail (cawan suci). Aku tahu isi otakmu. Kamu bisa nggombalin cewek mana aja sesukamu.”

