Cacat di Pikiran Perempuan
Bacaan Sebelumnya: Kuras Sumsum Cuci Otak
Aksi tipu-tipu adalah dasar dari segala jenis peperangan.
– Sun Tzu
Kuras Sumsum Cuci Otak memang mendasarkan pada aksi yang bersifat manipulatif, yang supaya bisa kita pahami dan kita implementasikan dengan efektif, kita harus berani menerima sifat dasar kita sebagai tukang tipu. Perkara ini sudah kita pelajari sama-sama dalam prasyarat kedua pada materi sebelumnya.
Sebelum kita melanjutkan pembahasan ini lebih jauh, mari kita coba eksperimen pikiran berikut ini. Bayangkan kita menonton pertunjukan sulap di Port Moresby, Papua Nugini (di Hawaii atau di Pyongyang, Korea Utara juga boleh, sih. Pokoknya pertunjukan sulaplah!). Di pertunjukan tersebut, bayangkan diri kita kemudian pergi ke belakang panggung untuk bertemu dengan tukang sulapnya, yang kemudian dengan sukarela membeberkan rahasia-rahasia sulapnya kepada kita. Lalu, apa coba yang terjadi pada diri kita setelahnya?
Betul! Kita justru merasa, yaaah…ternyata cuma kayak gini 
Kita cenderung kecewa.
Trik sulap — semencengangkan apapun kelihatannya — biasanya pada dasarnya ya biasa-biasa saja, sampai-sampai kita jadi merasa “cuma kayak gini” begitu tahu rahasianya. Kita justru merasa antara heran dan kecewa, kok bisa-bisanya orang-orang pada ketipu plus kagum sama trik simpel macam ini?
Maka sekaranglah saatnya bagi kita untuk mencapai momen pencerahan. Pada dasarnya semua fakta kehidupan, yang kelihatannya ajaib sekalipun, biasanya adalah hasil dari prinsip dan ide-ide sederhana yang dieksekusi dengan benar. Contoh gampangnya adalah penemuannya Wilbur dan Orville Wright: Pesawat terbang. Begitu tahu sistematika kerjanya, kita akan membatin, oh, kalau metodenya seperti itu, sih, ya pantas aja bisa terbang…
Dan seperti yang sudah bisa kita tebak, perumpamaan barusan juga berlaku dalam usaha kita untuk mendapatkan hati seorang perempuan. Semuanya sederhana. Kelihatan jadi rumit karena kita dituntun oleh lingkungan untuk mempercayai bahwa seni rayu-merayu adalah sebuah subyek yang sangat komprehensif, kompleks, membutuhkan belajar selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, sehingga kemudian ilmu ini menjadi mahal.
Itu yang setidaknya saya tangkap, kenapa banyak pelatihan-pelatihan romansa — baik di dalam negeri maupun di luar negeri — yang mengemas bahasan seperti ini menjadi sebuah kelas pelatihan yang bertarif sangat mahal. Malah kemudian kelas-kelas pelatihan itu – pada perkembangannya – menjadi terbit berseri-seri, seolah-olah perkara yang satu ini sungguh sangat rumit sekali. Padahal aslinya semuanya sangat sederhana 😛
Nggak heran juga, sih, kalau kemudian banyak pria malang yang — ketimbang termudahkan — malah menjadi semakin bingung gara-gara saking banyaknya materi ini-itu-ini-itu seputar menaklukkan wanita.

