Cacat di Pikiran Perempuan
Tapi demi menambah khazanah pengetahuan bagi kita semua, jujur, saya pun benar-benar nggak tahu mana metode yang terbaik untuk mengetahui kepengenan wanita. Cuma, saya bisa bilang, opsi terakhir adalah pilihan terburuk. Kiamatlah sudah kalau kita memutuskan percaya dan bertindak berdasarkan kata-katanya, meskipun maksud hati kita adalah untuk menyenangkan beliaunya. Saya nggak bercanda. Sungguh!
Malahan, fakta sebenarnya justru sangat menyedihkan, Bung. Perempuan itu seringnya juga nggak paham sama apa yang mereka sendiri inginkan. Jelas ini kedengaran sangat tidak masuk akal bagi kita, para pria, makhluk logika. Tapi apa hendak dikata, memang begitulah kenyataannya. Kalau kita niat dan kita jeli, perhatikan saja wanita-wanita di sekitar kita, maka kita akan mendapatkan segelondong bukti hanya dalam satu hari; sungguh benar bahwa wanita itu aneh tapi nyata.
Tempo tahun yang sudah lewat, ada sebuah reality-show yang berjudul “The Damsel”, yang menayangkan cewek bule — yang hidup di London — mengencani banyak cowok dalam waktu yang relatif bersamaan dengan tujuan memilih seorang pacar tetap. Di awal-awal, si Mbak Bule ditanya, seperti apa tipe cowok yang dicarinya?
Mbak Bule bilang, “Terus terang, saya bosan dengan orang-orang yang mati suri dalam hidupnya, yaitu orang-orang yang hanya punya sedikit atau malah sama sekali nggak punya misi dan aspirasi dalam hidupnya. Jadi selama ini saya kencan, ya untuk senang-senang saja. Sekarang, sih, saya kepengen punya pasangan tetap, seorang pria dengan arah yang jelas dalam hidupnya. Dia harus punya ambisi yang jelas, apa yang ingin dia capai dalam 5-10 tahun ke depan dalam hidupnya.”
Di akhir episode, Mbak Bule harus memilih antara dua finalis yang tersisa. Yang pertama adalah cowok necis lulusan University of Cambridge, punya sertifikasi akuntan publik, dan kerja di salah satu dari 4-besar firma akuntansi prosesional (saya nggak perlu bilang kalau yang termasuk big four di sini adalah Deloitte, Pricewaterhouse Coopers, Ernst & Young, dan KPMG, kan?
). Yang kedua adalah cowok pirang, surfer asal Gold Coast, Australia, yang bilang kalau dia sekarang sedang rehat dari kerjaannya sebagai pegawai toko musik untuk jalan-jalan keliling dunia, pesta-pesta, dan punya prinsip “You Only Live Once” alias YOLO.
Mempertimbangkan bahwa Mbak Bule menginginkan kehidupan yang mapan dan terarah, mendambakan pasangan yang ambisius dengan karir yang baik, kira-kira laki-laki jenis mana yang bakal dipilih oleh Mbak Bule?
Betul sekali, si Mbak Bule akhirnya memilih si Mas Surfer! 😎
Ini bukan anomali, kok. Mbak Bule nggak bohong ketika dia bilang kalau dia kepengen pasangan yang mapan. Mbak Bule ini persis kayak perempuan-perempuan lainnya pada umumnya, pasangan dambaan versi mereka memang haruslah demikian. Hanya saja, mereka — cewek-cewek ini — pada dasarnya tidak paham tentang keinginan mereka sendiri yang sebenar-benarnya. Inilah cacat pada pikiran mereka!
(Boy, saya awalnya juga frustasi dengan kenyataan ini. Boleh percaya, boleh juga tidak-tapi-keterlaluan-sekali-kalau-sampai-tidak-percaya, saya sendiri lulusan salah satu universitas 4-besar di Inggris selain Cambridge, saya pede bahwa saya punya karir yang bagus di republik kita ini, tapi nyatanya saya juga pernah ditendang mantan pacar saya demi seorang cowok yang kerjaannya cuma naik-turun gunung. Demi Allah! 😀 )

