KomunikasiPanduan

Menguasai Seni Mendongengkan Cerita

4. Imbuhkan dengan detail. Coba bayangkan kenangan yang kita alami dalam pikiran ketika kita sedang menulis. Tutup mata kita jika perlu. Ingat-ingat apa yang kita lihat, suara yang kita dengar, bau, dan segala hal yang kita rasakan. Semakin kaya detail cerita yang kita punya, semakin sidang pendengar yang dirahmati Allah akan merasa terlibat dalam cerita kita tersebut.

5. Tambahkan humor. Lihatlah pelawak-pelawak cap stand-up, dan kita akan tahu bahwa, di antara suatu awal dan punch line, mereka memberikan beberapa guyonan tambahan — ditambah dengan jargon (tagline) setelah punch line untuk membuat pendengar lebih ngekek. Jadi temukan titik di mana kita dapat memasukkan humor ke dalam cerita kita, misalnya kita bisa menggunakan guyonan tentang diri kita sendiri, orang lain, ataupun tingkah-polah manusia; meniru ekspresi wajah di film kartun; merujuk ke guyonan sebelumnya; atau juga mengatakan hal yang berlawanan dari yang diduga oleh pendengar.

6. Berikan nilai tambah. Sewaktu kita menggambarkan ciri positif diri kita — perhatikan! — ada cara yang benar dan ada cara yang salah untuk pamer. Cara yang salah misalnya adalah menyatakan dalam kalimat semacam: “Aku baru aja beli mobil baru.” Ini salah karena meskipun yang kita beli benar-benar mobil baru, dan bukan mobil seken (baca: second, Dul!), tetap saja ada kesan snob di dalamnya. Maka cara yang betul adalah dengan menceritakannya sebagai detail yang alami, yang membantu dalam mengilustrasikan sesuatu: “Jadi pas saya sampai rumah, saya harus membuka jendela mobil, soalnya bau mobil baru membuat saya susah bernafas.”

7. Hapus bagian yang nggak perlu. Setelah selesai menulis, baca ulang cerita kita. Pastikan cerita kita mudah diikuti dan tidak mengandung detail serta informasi yang tak dibutuhkan. Hapus apapun yang tidak membantu cerita kita. Kita mungkin perlu menjajal cerita kita ke beberapa orang untuk memastikan cerita kita ini berfungsi dengan baik, sesuai dengan tujuan kita.

8. Hapus juga perihal yang mengesankan butuh banget, alias needy. Pastikan pula bahwa tujuan cerita kita adalah untuk menghibur atau melibatkan orang lain, dan bukan untuk menjual diri kita atau pencapaian kita. Salah satu cara untuk menghilangkan kesan bahwa kita ini butuh validasi adalah dengan melihat setiap kata “saya”, “aku”, atau “gua”, dan semacamnya, lalu hapus yang nggak perlu.

9. Periksa panjang cerita. Dongeng kita seharuskan tidak kurang dari tiga puluh detik dan tidak lebih dari dua menit (artinya sekitar 75-300 kata pada cerita kita). Kalau terlalu pendek, tambahkan intrik dan humor, dan jika terlalu panjang, hapus bagian yang tidak perlu.

Sehabis kedua cerita kita tertulis dengan jelas, tentukan alur ceritanya lalu buat poin-poin untuk masing-masing cerita. Misalnya, kita bercerita tentang Doraemon, poin-poin yang adalah sebagai berikut: Seorang anak kelas 4 SD yang tinggal bersama kedua orang tuanya kedatangan robot cerpelai kucing dari abad 22, mendapatkan banyak peralatan masa depan yang aduhai canggihnya, tapi karena ceroboh binti sembrono, akhirnya selalu sial, dan seterusnya. Dan mohon diingat, cerita yang kita bikin seharusnya hanya memiliki tiga sampai enam poin.

Apa gunanya poin-poin ini? Gunanya, meskipun kita ini latihannya adalah menceritakan cerita kita sendiri, mengingat poin-poin ini akan membuat cerita kita terdengar lebih alami, dan kita akan bisa lebih fleksibel dalam menyampaikannya sesuai dengan tingkat ketertarikan pendengar.

1 ... 3 4 56

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x