KomunikasiPanduan

Menguasai Seni Mendongengkan Cerita

Jika masih kesulitan juga, bayangkan kalau saja kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan suatu cerita tentang diri kita kepada seorang produser film. Kira-kira, apa cerita hidup kita yang paling penting untuk ditunjukkan supaya produsernya tertarik?

Masih buntu juga? Temui teman atau keluarga kita. Minta mereka menceritakan kenangan yang menarik sewaktu bersama kita.

Misi 3: Pilih Cerita Kita

Tugas kita selanjutnya adalah menengok sifat kita di misi 1, lalu lihat cerita yang kita pilih di misi 2. Beri tanda (*) di cerita yang bisa menunjukkan sifat kita. Idealnya, dongeng kita tidaklah mengandung unsur pamer, tapi menunjukkan kekuatan dan kelemahan kita secara jujur, tulus, ada humornya, dan menarik.

Dari judul yang sudah kita tandai, pilih dua yang kira-kira paling menarik dan menghibur (kalau kita belum menandai cerita kita dengan (*), alias belum yakin ada cerita yang bisa menunjukkan sifat kita, pikirkan cerita lain – atau cari sifat kita lainnya). Tulis dua judul cerita terbaik kita di sini:

  1. _________________________________________
  2. _________________________________________

Dua kisah inilah yang akan kita kulik-kulik hari ini.

Misi 4: Siapkan Cerita Kita

Ambil sehelai kertas, buku harian kita, atau bikin file baru di komputer kita.

Tulis kedua cerita kita tersebut secara menyeluruh. Masukkan segala perihalnya ke dalam cerita – selama kita tidak ngibul, karena suatu saat — percayalah! — kita bakal dihantui oleh kebohongan tersebut. Berikut beberapa tips untuk membuat sebuah dongeng yang menarik:

1. Punyai awalan yang kuat. Dongeng kita haruslah memiliki kesan pertama yang baik, dan caranya adalah dengan membuat kalimat awal yang pendek, jelas, dan tajam. Kalimat tersebut harus merupakan kesimpulan yang mengalir secara alami dalam sebuah obrolan, misalnya: “Ah, ya, aku jadi ingat waktu aku berenang bareng hiu paus di Nabire.” Atau kalimat tersebut bisa berupa pertanyaan yang memicu ketertarikan pendengar: “Sudah pernah lihat hiu paus?” Atau juga kalimat yang menimbulkan rasa penasaran: “Pas kemarin di Nabire, aku berenang bareng makhluk menyeramkan.”

2. Miliki akhiran atau ending yang bagus. Kalau suatu cerita memiliki ending yang nggak terduga, menjawab misteri yang diberikan di awal, punya bagian lucu (punch line) yang baik, atau merangkum semuanya menjadi memiliki nilai moral atau pelajaran, maka itulah yang disebut sebagai cerita ideal. Pastikan bahwa kalimat terakhir kita membuat pendengar tertawa, senang, kaget, kagum, atau emosi positif lainnya. Kita juga bisa menambahkan pertanyaan di akhir cerita yang berguna untuk memancing respon. Lebih bagus lagi kalau akhirnya si pendengar malah bercerita balik.

3. Bumbui dengan intrik. Fase ketegangan biasanya terjadi sewaktu si pendengar menduga-duga ada sesuatu yang bakal terjadi, tetapi tidak tahu apa dan bagaimana hal tersebut akhirnya terjadi. Maka pastikan pendengar kita mengetahui ke mana arah cerita kita — atau setidaknya tahu kalau cerita kita mengarah ke suatu tujuan — tetapi bukan bagaimana proses kita ketika menuju ke tujuan tersebut.

12 3 4 ... 6

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x