KomunikasiPanduan

Menguasai Seni Mendongengkan Cerita

Tapi jangan berlebihan! Semakin kecil dan samar gerakan kita, maka semakin baik juga kesan yang ditimbulkan. Jangan berlebihan pada gerakan kita, pastikan saja pendengar memperhatikan kita supaya memperbesar kemungkinan mereka berkontribusi kapan saja. Jangan memberondong mereka dengan cerita yang tidak saling berkaitan. Jangan sampai kita melewati batas yang membuat kita malah dicap sebagai teroris obrolan.

Dan, ada satu unsur terakhir di penampilan kita yang tidak bisa kita latih di depan cermin: Hal yang tak terduga. Seperti kata orang-orang, sebagus apapun persiapan kita, selalu ada yang berubah ketika kita sudah di panggung.

Jadi ketika kita ngobrol dengan suatu kelompok, kita tidak perlu terlalu memikirkan ketepatan gestur ataupun kalimat kita. Pastikan saja kita menyebutkan poin-poin yang sudah kita susun. Kalau ada yang bertanya, menyela, atau menceritakan cerita mereka sendiri, jangan bingung, jangan ngambek. Ini justru berarti bahwa mereka memperhatikan kita.

Kalau percakapan mulai melenceng, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan cerita kita, kecuali pendengar-pendengar kita sendiri yang meminta kita menyelesaikannya. Kita bisa menyimpan akhir cerita kita untuk lain waktu. Jangan lupa pula, tujuan kita bercerita bukanlah untuk menyelesaikannya, tetapi lebih untuk menunjukkan betapa menariknya kepribadian kita.

Di sisi lain, jangan biarkan perilaku yang kasar alias nggak sopan. Yang namanya komedian pastilah selalu berurusan dengan manusia-manusia pencibir. Siapkan saja beberapa kalimat untuk mengatasi hal ini. Hendro, teman saya, misalnya, selalu bilang, “Pertunjukannya di sini, lho,” setiap kali seorang pendengar teralihkan perhatiannya.

Misi 7: Sebarkan Dongeng Kita

Pakai kedua cerita kita — dengan titik interaksi — setidaknya dua kali dalam obrolan kita hari ini. Kita tidak harus menceritakan kedua cerita itu kepada orang yang sama, tetapi pastikan bahwa kita menceritakan setiap cerita setidaknya dua kali pada hari ini.

Nggak masalah apakah kita bercerita kepada cewek yang kita suka, kolega kantor, teman kampus, mbak kantin, keluarga, atau orang asing, atau siapapunlah, yang penting kita bercerita.

Lakukan improvisasi, kalau perlu. Dalam cerita kita, kita bisa memasukkan detail, guyonan, atau titik interaksi baru. Nanti setelah kita selesai menceritakan sebuah dongeng, lihat kembali tulisan kita, dan tambahkan atau kurangi bagian yang menurut kita perlu diedit.

Kalau cerita kita ternyata tidak mampu memancing perhatian pendengar, ganti dengan cerita yang lain di daftar yang kita buat. Jika cerita baru itu masih juga belum berhasil, tanyakan ke orang yang mengetahui cerita kita untuk memberikan tanggapan atas penyampaian cerita kita, atau untuk menjelaskan cerita tersebut menurut versinya. Dan jika kedua cerita kita mendapatkan respon yang baik, mulailah untuk membuat cerita lainnya.

Selebihnya, ucapkanlah selamat ke diri kita. Penyampaian dongeng adalah salah satu dari seni tertua yang ada di bumi ini, dan sekarang kita sudah menjadi bagian dari seni tradisi tersebut.

Bacaan Selanjutnya: Mari Tingkatkan Budaya Membaca

1 ... 5 6

Mas Quentin

Campuran James Bond dan Buto Cakil. Mengandung Lactobacillus casei. Baik bagi kesehatan janin :)

0 0 votes
Article Rating

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x