Berani Tidak, Hebat
Bacaan Sebelumnya: Diskualifikasi
Ini bukan soal memilikinya, tapi soal bagaimana mendapatkannya.
– Elizabeth Taylor
Kapan hari kemarin saya pergi ke daerah Buleleng dengan lima orang teman cowok untuk hura-hura di dekat-dekat Pantai Lovina. Dua orang menghabiskan malam mereka dengan wanita, sementara tiga orang lainnya tidak. Sewaktu kami membicarakannya besok paginya, kami menyimpulkan bahwa perbedaan di antara teman-teman saya yang sendirian dan yang tidak sendirian ternyata cuma satu: Aura butuh.
Cowok yang menghabiskan malamnya dengan sendirian menunjukkan gelagat seperti yang disebutkan oleh Marsono, teman saya, di tulisan sebelumnya. Mereka terlihat terlalu ngebet dan menunjukkan ajakan implisit, “Mau ngeseks?” ketika mendekati wanita. Sebaliknya, laki-laki yang akhirnya berhasil ngamar dengan cewek, semuanya jual mahal. Mereka nggak ragu-ragu meninggalkan cewek yang menarik bagi mereka, ngobrol dengan manusia-manusia lainnya, dan meninggalkan kesan, bahwa jika si cewek nggak buruan mengejarnya, maka si ceweklah yang akan kehilangan kesempatan. Dua orang teman saya ini memahami insting dasar manusia: Semakin keras kita berjuang mendapatkan sesuatu, maka kita akan semakin menghargainya.
Maka pelajaran hari ini adalah: Dalam setiap interaksi, jadilah orang yang memberikan validasi, bukan orang yang membutuhkan validasi.
Salah satu cara yang paling cepat bin termudah untuk melakukan hal ini adalah dengan metode diskualifikasi. Untuk mendiskualifikasi seorang perempuan, tunjukkan di awal kalau kita tidak tertarik padanya. Meski sebenarnya kita memang sedang memburunya, melakukan diskualifikasi di awal bisa membalikkan keadaan dan membuat sang wanita kepengen mengejar kita. Misalnya, dengan ngomong kepada seorang wanita berambut (dicat) pirang, bahwa kita hanya mau nge-date dengan perempuan berambut hitam, itu akan mendiskualifikasi dirinya dari potensi menjadi pacar.
Mungkin konsep ini kedengaran ajaib, ya? Tapi coba kita pikirkan hal ini: Di mana-mana, biasanya, perempuan cantik akan selalu didekati oleh pria. Perempuan akan berasumsi, bahwa hampir setiap pria ingin menidurinya. Jadi ketika kita bisa keluar dari lingkaran potensi kencan, kita akan segera menjadi satu-satunya pria yang berbeda dari apa yang dilihatnya selama ini. Dan jangan salah, mayoritas orang selalu menginginkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki.
Dapat poinnya, kan? 😉
Keuntungan lain dari diskualifikasi adalah kalau kita melakukannya kepada seorang wanita yang sedang bersama teman-temannya, hal ini bakal membantu kita lebih dekat dengan teman-temannya, yang sudah terbiasa ikutan bahu-membahu menolak cowok-cowok yang merayu salah satu wanita di dalam kelompok tersebut. Dengan diskualifikasi, kita bisa mengubah bala bantuan untuk si target berbalik menjadi sekutu kita. Minimalnya, nggak bakal bersusah-payah untuk ambil bagian ngusirin kitalah.

