Berani Tidak, Hebat
Terakhir, diskualifikasi juga membantu membentuk kepercayaan. Ini karena diskualifikasi menunjukkan, bahwa motivasi kita tidaklah melulu karena kepengen menggagahi seorang perempuan. Dengan menunggu sampai dengan waktunya untuk menunjukkan ketertarikan kita, kita memberikan kesempatan kepada si wanita untuk menarik perhatian kita dengan karisma, karakter, dan kepintarannya.
Tapi tentu saja nggak semua hubungan membutuhkan metode diskualifikasi ini. Bisa-bisa saja ada kejadian ketika dua orang merasa saling tertarik sedari awal. Pun, jika kita berhadapan dengan seorang wanita yang kurang memiliki rasa percaya diri, kita nggak perlulah melakukan diskualifikasi, soalnya si cewek ini sendiri sudah melakukan diskualifikasi terhadap dirinya sendiri setiap saat 🙂
Nanti kalau kita sudah nyaman menggunakan taktik diskualifikasi, kita bakal sadar, kok, jika konsep diskualifikasi ini tidaklah asing, sulit, ataupun kompleks. Kita bakal sadar kalau ini adalah hal mendasar dalam gombal-menggombal.
Sebagian besar diskualifikasi dilakukan dengan nada yang fun, ceria, dan menyenangkan. Sebagian lagi kita lakukan dengan intonasi yang menunjukkan jika kita memiliki standar yang tinggi dan anti sama yang namanya kencan sembrangkangan…eh, sembarangan. Yang jelas, pada pokoknya, diskualifikasi tidak boleh dilakukan dengan cara yang kasar, menghakimi, terlalu kritis, atau malah merendahkan. Ada garis batas antara merayu dan menghina. Diskualifikasi tidak pernah dimaksudkan untuk menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain. Karenanya ucapkanlah diskualifikasi dengan senyum di wajah dan sedikit tawa, kayak kalau kita sedang bercanda dengan saudara kandung atau teman-teman dekat kita.
Saringan
Wanita suka mengetes pria. Mereka melakukannya dengan banyak alasan, misalnya kepengen menyeleksi laki-laki terbaik di antara pilihan lainnya, karena pernah trauma di masa lalu dan nggak mau mengulangi lagi kesalahan yang sama, atau juga ingin memastikan kalau kita memiliki kualitas yang mereka lihat di awal perjumpaan. Jadi wajar, dalam interaksi kita dengan sebagian besar wanita, baik secara sadar maupun tidak, wanita selalu menempatkan kita di titik di mana mereka bisa melihat reaksi kita terhadap suatu hal.
Testing-testingan ini bisa berupa candaan (seperti mengatakan, bahwa si cowok terlalu muda atau terlalu tua) sampai ke pertanyaan serius (semacam bertanya, kenapa si pria sampai putus sama mantan pacarnya). Normalnya, laki-laki bakalan duduk dan menjawab pertanyaan itu kayak lagi di acara kuis, berharap mengumpulkan banyak poin, lalu kemudian si wanita akan memilihnya. Yang nggak disadari oleh banyak pejantan, dengan mengikuti kuis tersebut, mereka sebenarnya sudah otomatis kehilangan banyak poin.
Nah, saringan memungkinkan kita untuk membalikkan kedudukan dan melihat apakah perempuan yang sudah bikin kita naksir ini sebenarnya memenuhi standar kita atau tidak. Oleh sebab bin musabab nan demikian itulah, sangat penting bagi kita untuk mengetahui standar kita sendiri.

