Mengeliminasi Approach Anxiety
Bacaan Sebelumnya: Gugup? Hadapi Saja
Ada banyak kata bijak dari banyak tokoh dan ahli untuk menciptakan hubungan antar-manusia yang lebih akrab dan sukses, tapi cukup delapan kata untuk menyimpulkan sekian banyak kalimat motivasi tersebut:
Kita-nggak-akan-menang-kalau-kita-tidak-bermain.
Iya, itu inti dari sekian juta kata bijak yang bertebaran di seluruh dunia ini. Coba saja kalau kita tinggal di dalam gua terus-terusan, kita tidak akan pernah berhubungan dengan orang lain. Kita harus keluar dari tempat tinggal kita dan mulai berinteraksi dengan orang-orang baru.
Maka dari itu, sindrom approach anxiety adalah istilah milik syaiton dalam diri kita yang akan selalu menggoda kita untuk, “Ealah…ngapain, sih, pakai acara nyobain kenalan sama gadis manis? Ngapain, sih, mesti kenalan dengan manusia-manusia lain? Diusir sama orangnya baru tahu rasa! Kalau sampai ditolak beneran, wah, malunya itu lho…”
Dan celakanya, kalau sindromnya sudah sampai tahap stadium lanjut, sewaktu tidak ada halangan eksternal apapun di sekitar kita, kita tetap saja tergoda untuk memilih tidak melakukan satu tindakan pun.
Nah, jadi sebelum kita mempraktikkan cara mengubah approach anxiety yang kita derita menjadi approach excitement, alias suka-cita ketika harus berkenalan dengan makhluk-makhluk baru, mari kita diskusikan dulu dua konsep utama berikut ini, yaitu “pikiran yang membatasi” dan “pikiran yang bebas”.
Pikiran yang Membatasi (PM)
Dari sejak lahir, kita — secara natural — sudah memiliki dua insting penakut yang membuat kita supaya selalu dalam situasi aman. Yang pertama adalah takut terhadap tempat yang tinggi, dan yang kedua adalah takut dengan suara keras.
Kedua hal ini pada dasarnya adalah hal yang baik, sepanjang ketakutan ini terkendali. Misalnya saja, ketakutan kita akan tempat yang tinggi akan mencegah kita jatuh dari tebing. Berikutnya, takut dengan suara keras memungkinkan kita untuk bisa bereaksi cepat ketika ada bahaya. Tapi, sebagian besar ketakutan yang kita miliki bukanlah peristiwa alamiah, melainkan terbentuk karena pengaruh lingkungan. Kita membatasi diri kita sendiri — biasanya — karena ada suatu pengalaman buruk saat kita kecil, atau bisa juga ketakutan tersebut timbul karena pengaruh dari figur-figur yang kita anggap berwenang dalam hidup kita, misalnya orang tua kita.

