Mengeliminasi Approach Anxiety
Latih Strategi “Hancurkan dan Bakarlah”
Sampai sejauh ini, kalau setelah membaca artikel ini pun, kita masih dibayangi ketakutan terhadap penolakan sosial, maka segeralah keluar rumah, beraksi, dan ditolaklah! Setiap kenalan saya yang kelihatan sebegitu mudahnya dekat dengan wanita cantik pun sebenarnya mengalami banyak penolakan juga. Itulah harga yang harus kita bayar untuk mencapai kesempurnaan.
Kalau nurut sama omongannya Michael Jeffrey Jordan:
Ada lebih dari sembilan ribu lemparan yang gagal masuk ke ring dalam karir saya. Saya pernah kalah hampir tiga ratus pertandingan. Saya diminta untuk 26 kali mengambil lemparan krusial, dan saya gagal. Saya mengalami berkali-kali kegagalan dalam hidup saya, dan karena hal itulah makanya saya sukses.
Setelah beberapa kali penolakan, kita akan merasa bahwa penolakan itu tidaklah terlalu buruk, bahwa penolakan itu nggak ada hubungannya dengan siapa kita. Rasanya bakal lebih kayak dicolek di bahu kita saja, kok, nantinya. Kita tahu hal itu memang terjadi, tapi rasanya tidak akan menyakitkan atau malah sampai mengganggu hidup kita. Bahkan, akan lebih terasa memalukan bagi yang menolak.
Saya pernah jalan-jalan bareng Heru, teman saya, dan berusahan supaya kami ditolak supaya Heru percaya sama omongan saya dan itu akan membantu mengalahkan ketakutannya. Tetapi yang terjadi malah peristiwa konyol: Rencana saya berbalik 180 derajat. Kami tidak ditolak sama sekali. Percakapan yang terjadi kira-kira kayak gini:
Saya: “Hei! Gimana kabar? Bisa bantu usir kami berdua? Kami perlu diusir, nih.”
Mereka: “Hah? Maksudnya apa?”
Saya: “Maksudnya, ketika dua orang datang dan kalian lagi nggak mood, jadi kalian malas bicara lalu bertindak kasar, dan kalian menyuruh kami…”
Mereka (memotong): “Oh, nggak. Kami nggak kasar. Nggak sama sekali!”

